8 Peribahasa yang Diterapkan Sebagai Prinsip Hidup Adat Budaya Orang Batak

Setiap insan seharusnya mempunyai moral kehidupan yg telah tertanam pada hidupnya semenjak berdasarkan kecil. Begitupun setiap suku bangsa yg terdapat pada Indonesia tentulah mempunyai pepatah-pepatah bijak yg telah turun temurun diwariskan sang leluhurnya.

Sama halnya menggunakan suku Batak yg mempunyai poly sekali pepatah-pepatah bijak pada bentuk peribahasa yg asal berdasarkan nenek moyang orang Batak sendiri. Pepatah bijak bentuk peribahasa pada bahasa Batak berarti umpama.

Berikut delapan peribahasa Batak yg wajib diterapkan & berlaku bagi orang Batak pada pada kehidupannya.

1. Ingkon sada do songon dai ni aek, unang mardua songon dai ni tuak Maknanya merupakan setiap orang wajib mempunyai rasa persatuan yg tinggi meskipun hayati pada pada banyak sekali macam disparitas pandangan menggunakan orang lain, jangan saling terpecah belah. Peribahasa ini hampir sama maknanya menggunakan “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.

2. Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan, jolo sinukun marga harapan binoto partuturan Seperti diketahui suku Batak tentunya mempunyai banyak sekali macam marga. Setiap pestabatak orang Batak niscaya mempunyai marga yg diturunkan berdasarkan pihak orangtua laki-laki (ayah). Marga-marga tadi niscaya mempunyai interaksi antara yg satu menggunakan yg lainnya.

Baik itu interaksi berdasarkan marga orang yg bersangkutan, marga berdasarkan pihak ibu, atau bahkan marga berdasarkan kakek atau neneknya. Untuk itu, jika orang Batak yg satu bertemu menggunakan orang Batak yg lain harus bertanya terlebih dahulu marga berdasarkan versus bicaranya, nir boleh sembarangan memanggil.

3. Ingkon songon poting, lam marisi lam so marsuara Makna berdasarkan peribahasa yg satu ini merupakan semakin seorang berilmu pengetahuan, maka usahakan beliau wajib lebih menjaga setiap apa yg diucapannya. Peribahasa ini mempunyai makna yg terbalik menggunakan “Tong kosong nyaring bunyinya”.

4. Molo litok aek pada toruan, tingkiron ma tu julu Makna peribahasa ini sangat cocok buat orang yg mempunyai banyak sekali pertarungan pada pada hidupnya. Apalagi setiap insan niscaya pernah mengalami suatu pertarungan. Nah, buat merampungkan pertarungan itu, maka lebih baik carilah terlebih dahulu apa yg sebagai penyebab berdasarkan pertarungan tadi.

5. Santau aek nuaeng, duaan memahami aek marsogot, na santahu i do pareahan Makna berdasarkan peribahasa ini merupakan sekecil apa pun yg kita dapatkan waktu ini, wajib permanen kita syukuri. Lantaran kita nir memahami apa yg kita dapatkan dikemudian hari, sanggup saja menerima yg lebih poly.

6. Tumit sitara tuit, tuit pangalahona. Molo tuit boru i mago ma ibotona Makna berdasarkan peribahasa ini merupakan segala tingkah laris atau perbuatan buruk yg dilakukan sang saudara wanita akan mempermalukan saudara laki-lakinya. Hal ini dikarenakan pada pada famili orang Batak, harga diri pada pada suatu famili akan jatuh pada anak laki-lakinya jika orangtua laki-laki (ayah) sudah meninggal.

7. Tampulon aek pada na mardongan tubu Makna berdasarkan peribahasa ini merupakan pada kehidupan antara orang Batak yg satu marga, meskipun baru kenal, maka interaksi kekerabatannya akan misalnya air yg mengalir. Artinya akan bisa manunggal balik meskipun sudah dipisahkan atau diadu domba orang lain.

8. Bolus do mulani hadengganon, amanah do mula ni hasesega Makna berdasarkan peribahasa ini merupakan orang yg baik akan selalu melupakan kejelekan orang lain, namun jika senang menghitung perbuatan baik diri sendiri pada orang lain akan sebagai karena adanya perselisihan.

Itulah delapan berdasarkan sekian banyaknya peribahasa orang Batak. Beberapa peribahasa pada atas pula sanggup digunakan buat kehidupan khalayak generik lho!

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *